Oleh: Novita Sari Yahya
Ketika seorang staf ahli Presiden Prabowo mengirimkan informasi mengenai kegiatan studi banding pengelolaan sampah di Banyumas, saya memberikan pandangan bahwa persoalan sampah di Indonesia tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan teknis. Studi banding, teknologi, pembangunan fasilitas pengolahan limbah, dan berbagai inovasi tentu memiliki nilai penting. Namun, semua itu tidak akan cukup apabila akar persoalan yang lebih mendasar tidak disentuh, yaitu kualitas manusia yang menjalankan sistem tersebut.
Bagi saya, persoalan utama bangsa ini bukan hanya tentang bagaimana mengelola sampah, tetapi bagaimana membangun manusia Indonesia yang memiliki kesadaran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas. Sebab pada akhirnya, setiap sistem yang dibuat manusia akan kembali bergantung kepada manusia yang mengoperasikannya.
Pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan tempat pembuangan akhir, mesin pengolahan, teknologi daur ulang, atau regulasi pemerintah. Sampah adalah cermin dari budaya, pendidikan, dan karakter sebuah masyarakat. Cara seseorang membuang sampah, menjaga lingkungan, menaati aturan, dan memikirkan kepentingan bersama menunjukkan kualitas nilai yang hidup dalam masyarakat tersebut.
Karena itu, jika persoalan sampah hanya didekati melalui pendekatan proyek, maka ada risiko tujuan utama menjadi bergeser. Program yang seharusnya menjadi solusi sosial dapat berubah menjadi sekadar kegiatan administratif yang berorientasi pada anggaran. Ketika sebuah persoalan publik dijadikan peluang mencari keuntungan pribadi atau kelompok, maka masyarakat kehilangan manfaat terbesar dari program tersebut.
Kita harus berani mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar Indonesia adalah masih adanya praktik-praktik yang merusak tata kelola pembangunan. Permasalahan seperti percaloan, permainan proyek, penyalahgunaan kewenangan, dan budaya mencari keuntungan dari kesulitan masyarakat dapat menjadi penghambat kemajuan bangsa.
Sebuah program yang bagus tidak akan berjalan optimal apabila dijalankan oleh manusia yang tidak memiliki integritas. Infrastruktur yang mahal dapat menjadi tidak berarti jika tidak dirawat. Regulasi yang baik dapat menjadi tidak efektif jika tidak dipatuhi. Anggaran yang besar dapat kehilangan manfaat jika tidak dikelola dengan kejujuran dan tanggung jawab.
Inilah mengapa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama. Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang memiliki gedung tinggi, teknologi canggih, dan infrastruktur modern, tetapi bangsa yang memiliki manusia dengan karakter kuat.
Beberapa negara memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter, kedisiplinan sosial, dan tanggung jawab warga negara sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Mereka memahami bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus berjalan bersama dengan pembentukan budaya kerja, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap aturan.
Indonesia juga membutuhkan pendekatan serupa, yaitu pembangunan yang tidak hanya berfokus pada hasil fisik, tetapi juga pada pembentukan manusia. Kita membutuhkan generasi yang memahami bahwa keberhasilan bangsa bukan hanya diukur dari jumlah proyek yang selesai, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, berbagai gagasan yang saya perjuangkan berangkat dari keyakinan bahwa manusia adalah fondasi utama pembangunan. Program Rumah Pengasuhan Anak, pendidikan keluarga, serta pendampingan tenaga kesehatan dalam konsep resilient and responsive health system bukan hanya berbicara tentang pelayanan, tetapi tentang membangun kualitas manusia Indonesia sejak dari keluarga.
Keluarga adalah sekolah pertama bagi pembentukan karakter. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang memberikan nilai tanggung jawab, kepedulian, kejujuran, dan rasa hormat akan menjadi generasi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Krisis bangsa tidak selalu dimulai dari kurangnya sumber daya, tetapi sering kali dimulai dari lemahnya karakter manusia yang mengelola sumber daya tersebut. Kekayaan alam yang besar, anggaran pembangunan yang besar, dan berbagai program pemerintah tidak akan membawa perubahan apabila manusia yang menjalankannya tidak memiliki moral dan rasa tanggung jawab.
Oleh karena itu, memperbaiki Indonesia harus dimulai dari memperbaiki cara berpikir manusia Indonesia. Kita harus membangun budaya bahwa jabatan adalah amanah, pekerjaan adalah tanggung jawab, dan setiap program publik adalah bentuk pelayanan kepada rakyat, bukan kesempatan untuk memperkaya diri.
Persoalan sampah hanyalah satu contoh kecil dari persoalan yang lebih besar. Jika masyarakat tidak memiliki kesadaran lingkungan, jika pelaksana program tidak memiliki integritas, dan jika sistem hanya berorientasi pada keuntungan, maka masalah yang sama akan terus berulang dalam berbagai sektor lainnya.
Bangsa ini tidak hanya membutuhkan lebih banyak proyek, tetapi membutuhkan lebih banyak manusia yang memiliki nilai. Kita membutuhkan pemimpin, aparatur, dan masyarakat yang memahami bahwa pembangunan bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi perubahan nyata dalam kehidupan manusia.
Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang kita miliki, tetapi oleh kualitas moral manusia yang menggunakan teknologi tersebut. Tidak cukup membangun sistem yang baik, kita juga harus membangun manusia yang baik.
Sebab pada akhirnya, pembangunan sejati bukan hanya tentang membangun negara, tetapi tentang membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berintegritas, peduli terhadap lingkungan, dan memiliki tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang.



















